Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Catatan Operator pengolahan Limbah Cair (IPAL)

PH air limbah

sebelumnya kita sudah mengulik IPALyang di sukai untuk mengolah limbah di berbagai industri, seperti yang kita ketahui di dunia perlimbahan, sistem pengolahan limbah yang sangat banyak di terapkan di berbagai jenis pabrik pabrik atau pun gedung gedung, yaitu pengolahan limbah secara biologis, atau dengan kata lain pengolahan limbah yang memanfaatkan bakteri baik (bakteri aerobic dan bakteri anaerobic) dalam mengurai bakteri bakteri jahat yang terkandung di dalam limbah cair, hasil dari sisa produksi pabrik pabrik, atau pun limbah yang di hasilkan.

karena sedikit sekali

informasi secara mendalam tentang cara menangani atau menjadi seorang operator pengolahan limbah cair di dunia internet, saya akan coba menulis catatan tentang masalah masalah apa saja yang akan kita temui dalam mengamati, menangani proses pengolahan limbah dalam sistem pemanfaatan bakteri aerobic dan anaerobic, serta kendala apa saja yang akan kita temui dalam mengurusi proses pengolahan limbah cair ini.
berbekal pengalaman yang saya alami dalam mengoperatori waste water treatment plant (WWTP), atau bisa juga di sebut instalasi pengolahan limbah (IPAL) di pabrik minyak sawit, pabrik biji sabun serta pabrik bio fuel selama 10 tahun dan menangani limbah cair di sebuah rumah sakit, saya akan coba mencatat kendala apa saja yang bisa kita temui.

sumpit

adalah bak pertama dalam penanganan limbah cair dalam pengolahan limbah cair, biasanya sumpit berfungsi untuk mencegah hasil produksi masuk ke proses pengolahan limbah,,
lah kok bisa...?!
di saat saat tertentu, atau bisa kita katakan error sistem produksi, kadang kala hasil produksi bisa masuk ke sumpit, nah itu salah satu fungsi sumpit, jika itu terjadi, kita bisa mengembalikan kembali hasil produksi tersebut ke jalur lain, dan sumpit pun menjadi ''bersih'' kembali dari hasil produksi yang ikut terbuang ke sumpit karena error sistem produksi.

kadar PH air

di ketiga jenis limbah pabrik itu sangat berbeda, menjadi catatan penting saya yaitu,
PH air yang di hasilkan oleh limbah pabrik minyak sawit cenderung asam, PH air kisaran di level 1 s/d 5,
Ph air yang di hasilkan dari limbah biji sabun, yaitu basa, PH air kisaran 8 s/d 12,
sedangkan PH air yang di hasilkan oleh limbah bio fuel adalah asam, PH air kisaran 5 s/d 3.
adapun kendala yang sering sekali di temui adalah, banyaknya lumpur minyak yang mengakibatkan sumpit pump tidak maksimal dalam memompa air ke bak ekualisasi atau bisa juga di sebut equalizing.
upaya yang kita lakukan ialah, bersihkan sumpit secara berkala.

bak ekualisasi

masuk ke proses pengolahan limbah, di bak ini berfungsi agar air limbah menjadi homogen yaitu suatu situasi air limbah tercampur dengan rata, bila ada zat padat seperti flok atau lumpur yang ikut akan di campur atau di upayakan tidak menggumpal, karena bak ekualisasi di lengkapi dengan blower, dan difuser difuser yang di letakkan di dasar bak ekualisasi.
jangan sering mematikan blower, karena lumpur akan mengendap di dasar bak ekualisasi,
dan jangan menunggu bak ekualisasi penuh, dalam memproses limbah ke bak selanjutnya.

bak flokulasi

adalah suatu bak yang berfungsi untuk menetralkan PH air, karena di flokulasi terdapat dosing caustic untuk menaikan PH air bila PH air cendrung asam,
pun sebaliknya, bila PH air cendrung basa, maka dosing HCL yang akan menurunkan kadar PH air limbah tersebut.
dosing HCL dan dosing caustic yang terdapat di bak flokulasi, di kendalikan oleh sebuah sensor PH, yang akan akan memerintahkan kedua dosing tersebut,,
apabila PH air limbah cenderung asam, maka sensor PH akan memerintahkan dosing caustic segera bekerja,
sebaliknya, bila PH air limbah cenderung basa, maka sensor PH akan memerintahkan dosing HCL bekerja.
dengan di bantu mixer untuk mengaduk air limbah yang berada di bak flokulasi.
catatan yang perlu di perhatikan oleh operator ialah,,,
setting inlet air limbah yang ke bak flokulasi, agar tidak terlalu banyak atau tidak terlalu deras, sehingga bila kadar PH air limbah tidak stabil atau cendeung asam maupun sebaliknya, maka dosing penstabil PH akan lebih maksimal dalam menetralkan PH air limbah.

bak koagulasi

menjadi tahap selanjutnya setelah flokulasi, di bak ini hanya ada mixer untuk pengaduk serta ada penambahan polimer,sebagai zat untuk mengikat flok flok yang terlanjur terbawa ke proses limbah,
penambahan polymer ini bisa di katakan situasional, karena juga flok tidak selalu ada atau banyak,,
tetapi dalam pengolahan limbah cair di pabrik kelapa sawit, pabrik biji sabun serta pabrik bio fuel, polymer selalu di gunakan, karena memang kadar flok di air limbah selalu ada.

DAF

adalah suatu mesin pemisah antara air limbah dengan flok flok lumpur, alat ini bekerja dengan menggunakan tekanan angin yang di setting sedemikian rupa, agar lumpur atau flok flok yang di ikat oleh polymer sebelumnya, terangkat ke permukaan bak DAF, untuk selanjutnya di scraf oleh scrafer DAF ini, sehingga antara lumpur dan air benar benar terpisah.
flok atau lumpur yang di sapu atau di scraf oleh DAF dan di tampung sementara ke oil tank.
sementara air limbah, hasil dari pemisahan di DAF akan di alirkan ke proses selanjutnya.
catatan operator,,,
agar selalu memantau scraffer dan tekanan angin di DAF,
bila tekanan angin terlalu tinggi atau terlalu rendah, maka akan berimbas pada penangkapan lumpur atau flok menjadi tidak maksimal,
bersihkan secara berkala scraffer serta jalur lumpur di DAF, karena rawan sekali mampet.

intermediate tank

berfungsi untuk penampungan sementara air limbah setelah di pisahkan dari flok yang ada,
di intermediate tank ini juga, di harapkan terjadi proses anaerob.

anaerob tank

berfungsi sebagai pusat pengolahan air limbah secara anaerob, atau bisa juga di katakan sebagai pengolahan limbah cair tanpa udara, indikator terjadinya proses air limbah secara anaerob adalah terjadinya atau keberadaan gas metana.
catatan operator yang sangat perlu di perhatikan ialah, kontrol terus kuantitas gas metana yang terbentuk di dalam anaerob tank,,
jangan sampai berlebih, karena jika kandungan gas metana berlebih, bisa menimbulkan ledakkan,
cek pula pematik gas metana yang ada di anaerob tank, pastikan pematik tersebut berfungsi, atau jika pematik gas metana sedang tidak berfungsi, operator bisa melakukan pembuangan secara manual.
setting pula inlet air limbah yang mengalir dari intermediate tank ke anaerob tank, jangan terlalu deras.
jaga bioball yang terdapat di dalam anaerob tank,agar tidak keluar, karena bioball di dalam anaerob tank berguna sebagai rumah bakteri anaerob.

pada pengolahan limbah cair yang terdapat di gedung gedung, dalam hal ini pengolahan limbah cair di rumah sakit, yang saya ketahui, tidak terdapat anaerob tank sebagai pusat proses limbah cair secara anaerob,,
dan juga tidak terdapat koagulasi serta flokulasi serta tidak terdapat DAF, sebagai sistem pemisah antara air limbah dengan flok atau lumpur,
mungkin sebagai pertimbangan, tidak terlalu banyak flok yang di hasilkan sebagai mana limbah cair yang terdapat di pabrik minyak sawit, pabrik biji sabun dan pabrik biofuel.
atau bisa juga karena efisiensi badget.

aerasi tank

adalah sebagai jantung pengolahan limbah, karena di bak itulah proses terjadinya pengolahan limbah secara aerob, dengan blower yang terus menerus menyuplai udara di bak aerasi.
pastikan warna air di aerasi tank berwarna coklat keemasan, pastikan pula ada sludge aktif yang terdapat di kandungan air aerasi,,
untuk cara pengecekan sludge aktif di aerasi bisa menggunakan tabung ukur,,
bila kapasitas tabung 1000ml, sludge aktif maksimal 500ml,,,
bila sludge aktif kurang dari 200ml, pastikan nutrisi berupa urea dan tsp tersuplai terus tanpa henti, dengan settingan dosing urea dan tsp di sesuaikan sesuai kebutuhan.
atau berilah ''sarang tawon'' di bak aerasi sebagai media penahan bakteri aerob agar tidak banyak terbuang.
atau tambahkan bakteri aerob, bisa juga berkordinasi ke pengolahan limbah di tempat lain, untuk meminta sludge aktif dari mereka, biasanya sludge aktif yang melimpah akan di buang, itu bisa kita manfaatkan untuk menambah sludge aktif di tempat pengolahan limbah kita.

sedimentasi

biasanya mengerucut di bawahnya, sebagai fungsi, agar sludge aktif mudah di kembalikan ke aerasi, dan memang, setelah proses limbah cair di aerasi, air limbah akan over flow ke bak sedimentasi.
bak sendimentasi sendiri berfungsi untuk pengendapan.
jadi sedimentasi fungsi utamanya untuk mengendapkan air limbah dari sludge aktif yang terbawa dari aerasi, air hasil endapan akan over flow ke bak selanjutnya.
sludge aktif yang berada di dasar bak sedimentasi, akan di sirkulasi ke bak aerasi bila kandungan sludge aktif di aerasi masih kurang.
sebaliknya, bila sludge aktif di aerasi melimpah, maka sludge aktif akan di buang ke sludge kolektor.
pastikan jalur sirkulasi sludge aktif di sedimentasi lancar, karena sering terjadi penggumpalan sludge, sehingga jalur sirkulasi tersumbat.

klorinasi tank

adalah tempat limbah cair yang sudah final dalam proses pengolahannya, di bak klorinasi ini limbah hasil proses akan di tambahkan dengan kaporit sebagai disinfektan dan selanjutnya akan di filter dengan karbon filter.

karbon filter

memastikan limbah cair setelah di filter akan keluar menjadi bening, dan sebagai cara akhir dalam mencegah flok ikut keluar ke efluent atau saluran kota.
catatan operator pada karbon filter, ialah backwash secara berkala, agar flok yang masih ikut di filter karbon terbuang dan tidak mengendap yang pada akhirnya bisa merusak karbon filter itu sendiri.

sludge kolektor

berfungsi untuk menampung sludge aktif yang berlebih, juga menampung sludge yang berada di oil tank, yaitu sludge yang ada dari pemisah lumpur atau flok di DAF.

filter press

adalah proses lanjutan lumpur di sludge kolektor,
jadi lumpur yang berada di sludge kolektor akan di aliri ke filter press,
di filter press lumpur akan di press dan di keringkan hingga menjadi padat, dan selanjutnya di buang dan di kategorikan limbah B3.
catatan untuk operator, pastikan tekanan angin tidak drop, karena filter press ini sangat bergantung pada tekanan angin.

di sistem pengolahan limbah di gedung gedung, biasanya jarang menggunakan filter press,
di sana hanya mengumpulkan sludge yang tidak di perlukan lagi, setelah terkumpul banyak, sludge yang tidak di perlukan tersebut akan di sedot oleh mobil tanki limbah domestik, layaknya sedot wc di rumah rumah.

demikian catatan operator pengolahan limbah,
mudah mudahan bisa di mengerti,
dan bisa menambah pengetahuan tentang pengolahan limbah.




Posting Komentar untuk "Catatan Operator pengolahan Limbah Cair (IPAL)"